Novelet yang bakal gue bikin bakal berhubungan dengan sejarah Majapahit, yang mengerucut dalam pada tokoh Gayatri Rajapatni.

Supaya lebih memahami sosok beliau, yang merupakan sosok inti dibalik layar pemimpin Majapahit yang berkuasa masa itu, maka gue membaca dua buku tersebut yang merupakan hasil penelitian.

Semakin membacanya, banyak hal yang gue semakin pahami, salah satunya akar budaya kita yang menjadi rancu akibat agama dijadikan kepentingan politik.

Pas banget, baru membaca buku “Majapahit”, guru spiritual dan teman gue ternyata memiliki rencana untuk ke Mojokerto, untuk mengunjungi Museum Majapahit dan arsitektur lainnya.

Wah, merasa semakin kebetulan, gue pun semangat mengeksekusi rencana perjalanan kami. Namun sayang karena satu dan lain hal, perjalanan dengan guru dan teman gue pun batal.

Akhirnya yang pergi gue dan adik angkat gue. Itupun spontanitas banget, karena entah kenapa ingin banget mengunjungi Trowulan ini.

Ada 4 situs yang gue kunjungi.

Beruntung disana ketemu tour guide yang memiliki wawasan luas dan cukup lengkap tentang sejarah arsitektur disana. Jadi, gue bisa nanya banyak hal yang bikin gue penasaran.

Lengkapnya bakal gue bahas di artikel yang berbeda, ya.

Dari bacaan buku sampai dengan observasi langsung ke lapangan, ada benang merah antara zaman Majapahit dengan zaman modern ini.

Tolok ukur manusia terhadap kebahagiaan, ternyata berhubungan dengan ego.

Masa Feodalisme, banyak penguasa yang ingin memperluas wilayahnya, termasuk menaklukan kerajaan lain.

Masa modern, kita melihat materi sebagai tolok ukur kebahagiaan, yang nyatanya ketika dijalani, kita akan terus merasa kurang.

Itu sih yang baru gue dapat ya, masih melakukan observasi lagi. Doain yaa biar noveletnya jadi.

Leave a Reply