Kalau dengar kata “daster”, top of mind apa yang lu rasain?

Kalau gue pribadi, jelas baju rumah, yang entah kenapa sama sekali ga menunjukkan kesan elegan.

Bahkan sempat ada video YouTube Farah Quinn beberapa tahun lalu, saat ditanya “bagaimana cara menjaga penampilan agar selalu elegan?”, salah satu jawabannya, “no daster!”.

Mungkin terdoktrin, kali ya.. hehe..

Tapi hari ini berbeda.

Di masa gue sudah ga terlalu peduli dengan penampilan. Ditambah setiap malam, pasti perut bagian atas gue selalu kembung, memakai baju dan celana terasa engap banget.

Ah, dress polosan ukuran jumbo pun akhirnya menjadi pilihan.

Ada 4 warna yang gue koleksi, satu lagi sedang di cuci | Dokumentasi pribadi

Pertama, gue dikasi adik gue dress katun super oversize. Ternyata gue nyaman banget pakainya. Adem juga.

Kemudian, adik gue yang lagi suka dress, rekomendasiin untuk membeli daster yang sudah dilengkapi bra. Kebetulan dia ada kelebihan daster bra, maka ia memberikannya ke gue untuk uji coba

Wah, semakin enak! Bahannya katun stretch dan adem. Lebih nyaman dipakai untuk tidur, dan kalau di rumah saja, terus tahu-tahu harus ke depan, misal ambil paket.

Jadi ga perlu ritual memakai bra juga.

Merasa nyaman, gue langsung koleksi! Borong! Hehe.. Kebetulan lagi ada promo juga.

Ada 5 warna yang gue koleksi, tapi satunya lagi di cuci | Dokpri

Gue mulai terbiasa dengan model dress untuk di rumah.

Tanpa sengaja ada konten kreator yang mengenakan daster dan terlihat nyaman. Dia juga memakainya untuk berpergian.

Tertarik, gue pun langsung searching di toko oren. Dan ketemu daster batik, yang terlihat menarik di mata gue.

Model V-Neck dengan bahan rayon, sudah terbayang di otak gue, kalau daster ini bakal enak banget dipakai.

Sebagai orang yang demen sejarah, penasaran juga perjalanan si daster ini bagaimana, sampai dulu tuh jadi seragamnya para ibu rumah tangga.

Dulu dipakainya sama penunggang kuda atau pengemudi mobil atap terbuka di Amerika Serikat, fungsinya untuk melindungi pakaian didalamnya.

Jadi si duster ini fungsinya kayak jaket lah..

Fungsinya sebagai lapisan pelindung baju ketika membersihkan rumah atau memasak.

Pas masa kolonial Belanda sekitar tahun 1920-1930an, pakaian yang dipakai orang Belanda masih menjadi tren setter, karena mereka menguasai banyak wilayah Indonesia.

Kata duster pun mengalami serapan di Indonesia, menjadi daster.

Nah, karena iklim di Indonesia tropis, ga mungkin pakai baju berlapis-lapis, maka itu dibuatlah gaun longgar yang dijadikan pakaian utama untuk beraktivitas di dalam rumah.

Bahan rayon atau katun menjadi pilihan, karena adem dan mudah menyerap keringat. Motifnya tentu batik, karena di Jawa, batik menjadi primadona atau ciri khas wastra yang disukai banyak orang.

Tahun 1980an, tanpa disengaja, daster pun menjadi seragam para mama di rumah, karena nyaman, adem dan praktis saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Kencana Ungu dan Sunan menjadi top brand untuk daster.

Daya tarik daster sempat menurun, karena lebih banyak pakaian yang terlihat modern, walaupun di dalam rumah.

Kemudian dalam vlog keluarga Ruben Onsu, Sarwendah menjadi brand ambassador Kuda Mas dalam mempromosikan daster.

Yang menjadi fans Sarwendah, tentu semangat untuk mengoleksi daster juga.

Foto Sarwendah yang memakai daster | Screenshot : Kapanlagi.com

Pas pandemi COVID-19, dimana Indonesia memberlakukan PSBB. Banyak dari kita yang beraktivitas di rumah saja, tentu pakai pakaian yang nyaman, menjadi prioritas.

Muncul lah daster dengan motif tie dye yang dibuat dengan bahan rayon.

Salah satu contoh model daster Tie Dye | Screenshot : Shopee / Uwais Grosir

Dan motif tie dye pun langsung hype, dan tentu bahan rayon menjadi primadona masa itu.

Tie dye sendiri merupakan motif kain dengan teknik ikat, yang kalau di Kalimantan, kita akan menyebutnya Sasirangan.

Contoh Kain Sasirangan khas Kalimantan | Foto : Instagram/Kasasiur_banjar

Kalau di Jepang, akan disebut Shibori.

Contoh kain Shibori Jepang | Foto : Pinterest/Chelseacraft

Ga terasa sudah 6 tahun berlalu, dari masa PSBB kemarin, tapi sekarang daster masih menjadi pilihan fashion para perempuan untuk di rumah.

Dan sekarang motifnya pun semakin modern dan beragam, menunjukkan khas wastra Nusantara.

Nah, siapa nii yang masih demen pakai daster? Hehe.

Leave a Reply