Kamu tim e-reader atau buku fisik nih?

Sebagai orang kudet (kurang up to date), gue baru punya Onyx Boox Go Color 7 Gen II, dong, dan ini pun baru hitungan hari.

Gue tadinya ga tertarik, karena ga mau terlalu banyak gadget. Dan mempertimbangkan fungsinya.

Untuk apa beli mahal, tapi isinya hanya bisa baca buku tertentu yang cuman bisa dibeli dari Amazon. Andai mau baca dari aplikasi lain, harus transfer dulu.

Sebagai orang yang malas ribet, gue ga melihat ada fungsi lebih di sana. Dan kebanyakan bacaan gue berbahasa Indonesia, wah, Kindle tentu ga akan pernah masuk sebagai wishlist gue.

Buku fisik pun menjadi pilihan, karena mata gue ga sepet kalau baca terlalu lama, dan gue bisa corat-coret catatan pribadi dengan bebas. Gue cukup senang menulis tangan.

Sampai suatu hari, gue ada keinginan untuk bikin perpustakaan. Gue cari info lah di Gemini, proses bikin perpustakaan bagaimana, sistemnya apa saja, dan perlu persiapannya bagaimana.

Dan kebetulan, gue kan lagi nonton Netflix “Tidying Up with Marie Kondo”, tiba-tiba muncul pertanyaan, “bagaimana seorang praktisi minimalis kalau punya perpustakaan?”

Salah satu jawaban Gemini adalah sewa e-reader.

Hah? Gimana konsepnya? Jujur gue baru dengar, dan segera gue cek di Tiktok, benar ada ga, atau itu hasil karangan sahabat AI gue saja.

Eh, bener ada, dong, tapi itu di Filipina.

Dan ini menarik banget, menurut gue, karena rumah gue bukan yang besar banget untuk nampung banyak buku. Tapi kalau ada sistem sewa e-reader, menarik juga.

Gue mencari lebih dalam tentang e-reader, yang ternyata brandnya sudah banyak. Ga cuman Kindle saja. Dan mata gue tertarik dengan Onyx Boox Go Color 7 Gen II dan stylusnya.

E-reader pertama gue yang bikin gue happy berat | Dokpri

Sistemnya Android, jadi gue bisa baca buku Gramedia Digital dan Google Play Book tanpa gue harus transfer data.

Kemudian, ini yang menarik, gue bisa corat coret, tanpa harus bawa buku mini lagi.

Gue pernah punya iPad mini, tapi menurut gue terlalu berat untuk dibawa-bawa. Jadi gue merasa Onyx Boox bisa menjadi jawaban.

Nah, setelah riset, beli lah segera si Onyx Boox incaran gue. Gue kan order di malam hari, dan itu benar-benar bikin gue ga bisa tidur sampai esok harinya.

Sore harinya, Onyx Boox pun datang. Wah, sumpah gue kegirangan banget melihatnya.

Sellernya pun baik banget, kan gue ada order covernya juga, tapi sellernya kasih tahu kalau pembelian e-readernya sudah termasuk cover, jadi ga perlu beli lagi.

Senang banget, jadi bisa berhemat.

Dan ketika menyentuh Onyx Boox ini pertama kali, wahh, darah gue berdesir dan jantung gue melonjak penuh kegirangan. Bilang gue seperti anak kecil, tapi itu lah yang gue rasakan.

E-reader pun langsung gue otak-atik. Ya, maklum ya usia sudah emak-emak, jadi pusing banget settingnya. Untung ada adik gue yang menenangkan gue untuk sabar.

“Ngeri, susah dikit, dijual lagi nanti!”, begitu katanya, secara gue memang suka banget menjual barang prelove. Hehe.

Dua hari gue pun membaca nonstop, dan gue merasa aneh juga, kenapa membaca e-reader ini bikin ketagihan.

Seperti yang dikatakan oleh Raditya Dika yang mengatakan dia sempat ke Fisioterapi karena terlalu lama membaca. Dan ada salah satu akun Tiktoker yang mengatakan membaca di e-reader lebih cepat.

Hmm… ada yang mengalami hal yang sama?

Oke, buat teman-teman yang penasaran dengan Onyx Boox Go Color 7 Gen II, bisa klik link dibawah ya

Leave a Reply