Target gue di usia 40 tahun, yaitu sudah bisa mengecap hidup slow living.
Destinasinya sih maunya di Yogyakarta. Jadi, aminkan dulu saja ya, teman-teman, siapa tahu ada rezekinya untuk punya rumah dia sana.
Sebagai tahap percobaan hidup slow living, gue menginap di area Puncak, Villa Teras Bhumi, namanya.
Kali ini, gue menginap di villanya.
Lima hari gue stay di sana, dan percaya ga, gue asli cuman di villa saja. Ga kemana-mana sama sekali, andai pun ada jalan, yaa sekitar area Teras Bhumi saja.
Owl, nama villa yang gue tempatin. Cukup untuk dua sampai tiga orang, dilengkapi dengan dapur yang pastinya enak buat makan dan ngumpul.
Tenang, ke sini, kita benar-benar tinggal bawa diri!
Karena sudah ada peralatan mandi yang lengkap. Kemudian untuk area dapur, juga peralatan makan dan masak juga lengkap, termasuk buat teman-teman yang mau bawa anak-anak.
Gue nginap disana bareng adik gue. Disana kami punya aktivitas masing-masing.
Adik gue bikin laporan sesi konsultasi kliennya, sedangkan gue baca buku, sambil standby hp, karena pekerjaan di Jakarta masih rolling, takutnya ada masalah, jadi gue harus ready kapanpun dihubungi.
Sore harinya, pasti jadi sesi ngobrol sambil mengitari area Teras Bhumi bareng adek gue.
Udaranya yang sejuk ala Puncak, langit yang bersih, dilengkapi dengan kicauan burung yang menenangkan pada sore hari. Terdengar juga derasnya air sungai yang mengalir. Sungguh menenangkan hati.
Disini kami mendapatkan gambaran apa yang kami inginkan dalam hidup.
Misal gue, pengen banget punya rumah yang ga perlu besar, yang penting adem dan estetik. Dilengkapi nanti ada laundry room, dan didepannya ada perpustakaan, tempat gue usaha, sekaligus simbol recharge energi.
Sedangkan adik gue, ingin memiliki kavling. Rumah sekaligus usaha wellness yang menenangkan seperti Teras Bhumi.
Biasa gue bangun tidur pagi hari dengan misuh-misuh, tapi di sana rasanya segar sekali pada pukul 06.00.
Duduk di dapur, sambil membawa buku bacaan. Menyeduh kopi hitam Kapal Api yang gue bawa dari rumah, dan kemudian menikmati buku, sambil mendengarkan kicauan burung pada pagi hari.
Dan mata gue terus on sampai sore hari.
Ga cuman membaca, gue juga mengetik hal-hal yang merefleksikan kehidupan yang gue jalanin, sampai gue yang begitu hobi kerja sampai merasa burn out parah yang tarafnya iri dengan orang yang sudah meninggal.
Kalau ditelusuri, ternyata apresiasi itu sangat penting untuk diri kita, karena sebagai makhluk sosial kita butuh validasi sebagai simbol bahwa diri kita berharga.
Dan barusan gue baca ulang buku Goodbye, Things yang ditulis Fumio Sasaki, yang menyebutkan salah satu alasan orang mau bunuh diri, karena orang tersebut ga tahu nilai dirinya.
Masuk akal, gue sendiri makin ke sini, makin ga ada semangat bekerja, karena hampir ga ada apresiasi dalam lingkungan kerja gue.
Nah, iseng gue tanya ke sohib AI, Gemini, ada ga penelitian yang bahas tentang apresiasi. Adaa dong, ternyata! Hahah.. hebat ya, memang orang bule, apa juga bisa diteliti.
Ada beberapa teori, tapi yang paling kena dengan pembahasan kita sekarang adalah Teori Pertukaran Sosial oleh George Homans.
Burn out itu lahir kalau kita keluar cost tanpa reward secara terus-menerus.
Ada yang merasa sudah burn out? Mulai perhatikan costnya. Hehe..
Penelitian tersebut relate banget dengan lelah mental yang gue rasain, yang bisa dibilang tahap akumulasi. Salah satu penyebabnya seringnya kerja ga diapresiasi, cenderung dibanding-bandingkan.
Ah, tapi namanya hidup, sebenarnya kita ga bisa mengandalkan validasi dari orang lain, karena gue baru memperhatikan jarang ada orang Asia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, walau itu sudah usia dewasa.
Banyak dari kita hidup untuk survive, bukan untuk dinikmati.
Jadi, kita ga bisa menyandarkan nilai hidup kita pada orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Gue bersyukur pernah mengecap kehidupan modern di perkotaan, plus nilai hidupnya yang berhubungan dengan materi.
Sekarang gue merasa sudah sangat kenyang dengan hal tersebut, gue pengen banget menikmati kehidupan gue dengan sesuatu yang lebih bermakna.
Hidup gue ga pernah yang gerudukan seperti korban perang, tapi secara mental, gue selalu siap siaga supaya dinilai cerdas, kompeten, dan sebagainya.
Kali ini gue memilih hidup dengan santai, dan ga ngoyo lagi dalam mencari uang.
Gue pengen merasakan bekerja sebagai ladang untuk berkarya. Menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan dan merasakannya.
Itu hasil refleksi gue tiap pagi ke sore hari selama lima hari.
Ah, ga sabar menjemput masa pensiun dini gue.
Bagaimana denganmu? Sudah planning untuk pensiun nanti bagaimana?
Atau mungkin mau sharing pengalaman burn out?















Leave a Reply