Pernah terpikir ga untuk pensiun super dini?

Well, kalau gue menjelang usia 40 tahun, ingin banget berhenti bekerja dan hanya melakukan aktivitas yang asli disukai saja.

Bisa ga ya? Pertanyaan yang selalu gue tanyakan ke diri gue sendiri.

Gue mulai kerja itu usia 14 tahun, dan gue bahagia banget, karena merasa agak mandiri, dan bisa bantu perekonomian keluarga. Minimal jajan gue dan adik gue, ga perlu minta lagi ke nyokab.

Btw, nyokab gue single parent, dan beliau adalah wanita yang sangat hebat karena begitu tough jalanin hidup.

Gue sangat suka bekerja, dan justru yang benar-benar ga gue suka itu adalah sekolah! Ah, itu berasa gue dimasukin ke barak militer sih.

Karena gue, angkatan milenial, masih berlaku didikan ala VOC, terutama dalam bidang pendidikan. Buat nyokab, pendidikan selalu menjadi prioritas.

Sedangkan gue, uang adalah prioritas!

Pengalaman yang membentuk gue, bagaimana uang bisa “membeli” rasa hormat dan penghargaan orang lain.

Sekolah, gue jalanin hanya sekedar formalitas, dan biar nyokab ga marah saja. Sedangkan saat bekerja, gue merasa “hidup” seutuhnya.

Walaupun pasti ada saja ya ditegurnya oleh atasan, atau konflik dengan rekan kerja, tapi gue senang menjalaninya, ketimbang harus sekolah.

Dan gue ga suka banget sama buku bacaan sekolah, gue lebih senang novel.

Hanya mata pelajaran Sejarah dan Tata Negara saja yang bisa bikin gue anteng mendengarkan full, selebihnya pasti harus selalu ada gencatan senjata.

Pas ada pilihan ga kuliah, gue langsung ambil kesempatan untuk lamar pekerjaan ke perusahaan. Tapi ternyata itu hanya kebahagiaan sementara, karena nyokab bersikeras gue harus lanjutin pendidikan.

Jadinya, gue cari yang paling murah, yang penting dapat ijazah. Sekaligus bisa menjadi modal gue untuk naik gaji nanti!

Kuliah sambil kerja pun gue jalanin. Gue bahagia masih bisa kerja. Gue sangat suka mencium wangi uang kertas dan logam ketika masuk ke dompet gue.

Semuanya berjalan dengan baik, sampai gue masuk usia dewasa yang dimana harus bertanggung jawab atas eksistensi keluarga.

Eits, bersyukur gue masih single, tapi tanggung jawab gue adalah adik gue dan keluarga besar. Yaps, gue dipercaya jalanin usaha keluarga.

Awalnya gue senang banget , tapi makin ke sini rasanya mual banget, bahkan hanya untuk memikirkan pekerjaan.

Pembagian hasil yang ambigu antara bekerja dan ga bekerja, kemudian kurangnya apresiasi kerja, ditambah dengan adanya runutan masalah tentang keuangan yang harus gue selesaikan hampir sendirian.

Pertama kalinya dalam hidup, gue enek banget sama kerja! Dan mulai relate sama teman-teman yang mengistilahkan dirinya budak corporate, kemudian kerinduan untuk resign.

Yap, itu yang mau gue lakukan. Dan kalau mau ditanya nanti sehari-harinya ngapain, hanya ingin baca buku saja, sambil nulis dan melakukan hal yang gue tunda selama ini, misal riset sejarah dan perilaku manusia.

Membaca buku di pagi hari dengan suasana yang damai dengan udara yang bersih | Dokpri

Gue memutuskan untuk cuti 8 hari, full tanpa membawa pekerjaan sama sekali. Gue hanya pegang hp saat jam kerja saja, itu pun kalau dihubungi yang terkait pekerjaan.

Bangun pukul 05.00 WIB, kemudian baca buku sambil minum kopi hitam Kapal Api. Dan itu gue lakukan seharian full. Sore harinya ngobrol dengan adik, sambil jalan di sekitar Villa menikmati suasana sore dan malam hari.

Recharge energi, itu lah yang gue rasakan.

Dan disini gue ada gambaran, ingin sekali tinggal di pinggir kota yang sepi, tapi udaranya masih sejuk, dan ada pemandangan alam yang indah.

Gue punya usaha perpustakaan, dan ga ngoyo kerja. Yang penting cukup untuk hidup sehari-hari.

Rasanya persetan dengan kondisi perekonomian saat ini, gue pengen banget merasakan kedamaian tanpa tuntutan uang. Hanya ingin hidup penuh kedamaian dan memiliki makna saat menjalaninya.

Apakah teman-teman juga merasakan hal yang sama? Atau mungkin sudah menjalaninya? Sharing dong, biar gue ga merasa halu sendiri. Hehe.

Leave a Reply