Mengucapkan “terima kasih” pada barang, atau memperlakukannya dengan hormat hampir ga pernah gue lakukan.
Merasa sayang, maka gue pakai terus-terusan. Kalau merasa biasa saja, ya, bakal gue diemin saja atau jual. Ga suka, kalau masih layak pakai, maka gue akan donasi, bila tidak, ya, buang.
Tapi di rawat sampai seperti objek hidup, gue belum pernah sama sekali.
Dan itu gue baru pahamin ketika baca buku Marie Kondo yang berjudul “Marie Kondo’s Kurashi at Home”.

Bahkan Marie Kondo bisa ada konsep bahwa barang yang sampai ke tangan kita itu merupakan jodoh!
Lucu, tapi menarik.
Hal ini bikin gue berpikir, jangan-jangan retail therapy yang selama ini gue lakukan itu bukan akibat stres saja, tapi karena gue ga terlalu peduli sama kehadiran barang-barang gue.
Pas baca buku ini, gue kombinasikan dengan nonton seri Netflix “Tidying up with Marie Kondo”, supaya lebih berasa visualisasinya.
Dan paling kena banget ketika adegan Marie Kondo berlutut, mencari spot yang nyaman di rumah kliennya, kemudian menyapa rumahnya dulu, sebelum membantu kliennya untuk memilah barang.
Wah! Bahkan di rumah yang sudah gue tinggalin sampai 20 tahun lebih saja, ga pernah gue lakukan itu. Haha.
Kondisi psikis gue pas nonton dan baca tentang Marie Kondo lagi down banget, dan ada kecenderungan lelah mental yang masuk dalam kategori passive suicidal.
Hidup gue baik-baik saja, ga ada yang gejolak yang bagaimana. Namun gue merasa hampa dan merasa ga ada energinya saja kalau mau lakukan sesuatu.
Dalam buku Goodbye, Things : Hidup Minimalis ala Orang Jepang, salah satu alasan seseorang menjadi depresi karena yakin kalau dirinya tidak bernilai.
Yap, itu yang lagi gue rasakan. Dan kalau ditanya, gue pengen lakuin apa, gue cuman pengen nikmatin hidup gue sendiri saja, tanpa beban kerjaan ataupun kewajiban untuk cari duit.
Semakin dibaca, gue semakin semangat untuk membersihkan rumah dan memilah barang, karena merasa ada harapan untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Gue ga mau merana yang akhirnya berujung gila, kasihan adik gue yang nanti jadi repot urusin gue. Dia punya kehidupan dan impiannya.
Dalam waktu dua hari, gue berhasil membersihkan rumah, memilah barang, sambil menyelesaikan bacaan Kurashi at Home.
Wah, senang sekali. Baru pertama kali gue merasa rumah gue adem tanpa AC.
Di area wilayah gue, lagi panas banget, jadi debu gampang banget masuk. Efeknya, ya gitu, lantai rumah cepat ngeres, ga enak di kaki, dan bikin rungsing.
Tapi dua hari ini, dengan rajinnya, gue bersihkan. Apalagi sebenarnya gue sudah punya ART, Mba Tine Co, sebenarnya lebih mudah membersihkannya. Hanya saja, selama ini ga ada energi sama sekali.
Pulang kerja rasanya ingin sekali melakukan apa saja, asal jangan ketemu orang ataupun bahas apapun yang berhubungan dengan cari duit.
Dan sekarang, gue lagi menerapkan menciptakan rasa connect dengan apapun yang gue miliki. Supaya gue jangan BOROS lagi! Tolong ya, Tuhan! Amin!
Buat teman-teman yang mau baca bukunya di Play Book, ini untuk linknya ya..
Leave a Reply