Ketika Pengakuan terhadap Iman Umat dibatasi oleh Pelayanan Aktif

“Menulislah tentang perjalanan hidup umat, kadang yang terlihat sederhana, justru menarik di tulis”, kata Gregorius Magnus Finesso, editor Harian Kompas, yang juga pengampu Workshop Jurnalisme Empatik pada 21 Juni 2026.

Hal inilah yang membuatku tertarik untuk berpartisipasi dalam majalah Gereja Katolik.

Pengalamannya di lapangan dalam melihat angle penulisan untuk suatu kejadian, serta siapa saja yang diwawancarai membangkitkan semangatku untuk melakukan hal seperti dirinya.

Misalnya, ada bencana alam di Yogyakarta beberapa waktu lalu, Pak Greg, begitu ia disapa, turun ke lapangan, melihat situasi bencana, turut membantu, hingga akhirnya bisa ngobrol dengan salah satu korban bencana seperti layaknya teman.

Setelah itu bahan obrolan pun diketik dengan rapi, menjadi sebuah artikel feature yang menggugah hati.

“Ini jadi pelajaran kami, terutama untuk Salus dalam menyajikan artikel pada umat”, kata penutup yang kita panggil saja Pak G, yang menjadi moderator sekaligus tim majalah tersebut.

Pernyataan tersebut terasa seperti harapan baru, mengingat majalah tersebut jarang saya buka, karena entahlah, saya ga melihat ada yang perlu saya ketahui atau pelajari dari situ.

Malah, saya lebih membutuhkan Warta Salus, karena banyak informasi penting dari Gereja yang perlu saya ketahui.

Saya pun mengajukan diri untuk menulis pada salah satu rubrik di majalah tersebut, dan karena keterbatasan waktu yang saya miliki, maka Pak G meminta saya untuk menulis dalam rubrik Sosok.

“Penulisan seperti arahan Pak Greg, dan paling banyak 350 kata”, jelas Pak G ketika saya menanyakan ketentuan untuk menulis rubrik tersebut.

Maka saya pun menuliskan tentang sosok Gen Z yang memutuskan menjadi entrepreneur, karena banyak orang tua yang cukup khawatir dengan masa depan anak-anaknya yang ga mau bekerja kantoran.

Sosok yang saya tulis memang bukan dari wilayah saya tinggal, tapi saya tahu mereka berdua sangat aktif pergi ke Gereja Paroki St. Laurensius ataupun Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading.

Sebelum menulis, saya membaca buku “Andai Saya Wartawan Tempo, yang ditulis oleh Goenawan Mohamad, sekaligus mempelajari kembali apa yang diajarkan oleh Pak Greg.

Kemudian, melaksanakan apa yang dianjurkan, seperti meriset, mewawancarai dan observasi kegiatan mereka saat berjualan.

Tulisan pun disusun menjadi artikel, dan dibagi menjadi 3, sehingga redaktur bisa memilih tulisan mana yang mau diangkat.

Respon dari tim redaktur sebenarnya positif untuk tulisanku, yang saya ga menyangka ada syarat tambahan ternyata, “harus orang yang menonjol, entah aktivis, entah punya prestasi. Setidaknya orang yang cukup familiar bagi umat, tapi kurang banyak dikenal. Maka kriteria itu yang layak ditampilkan”.

Tidak ikut kegiatan Gereja ataupun dirasa kurang familiar, maka tidak bisa masuk dalam rubrik Sosok.

Bila ditolak karena tulisan saya kurang baik, maka rasanya saya masih bisa menerima. Kesal, tapi saya akan memperbaiki teknik penulisannya.

Tapi ditolak karena tidak aktif kegiatan gereja, rasanya ada yang mengganjal.

Gereja dibangun karena urunan kolekte dan sumbangan dari umat yang hadir. Tidak semua umat bisa memiliki waktu untuk melayani dalam Gereja, disisihkannya uang hasil kerja keras mereka untuk pembangunan Gereja, saya rasa itu bagian dari pelayanan.

Masalah dikenal atau tidak oleh umat lain, saya rasa kategori majalah Gereja ini bukan komersial, yang dimana sosok tersebut menjadi penting untuk dikenal banyak orang, dan bisa menginspirasi.

Kemudian hari ini, saya mendengar bacaan Alkitab melalui YouTube Fresh Juice. Matius 11 : 25-27, dimana yang saya pelajari bahwa kita harus selalu rendah hati dan memanusiakan manusia agar tidak menjadikan diri kita Farisi versi modern.

Nah, disini saya pun mempertanyakan, Pak G adalah jelmaan Farisi atau ego saya terluka karena penolakannya tidak sesuai idealismeku tentang Gereja Katolik?

Di mataku, Gereja Katolik seharusnya menampilkan wajah kasih Tuhan tanpa pandang bulu, seperti yang selama ini Romo Hadi, Kepala Paroki St. Laurensius, lakukan.

Leave a comment