“Gue ga suka masak, dan ga akan pernah nyentuh dapur.”
Kalimat tersebut sudah seperti prinsip hidup semenjak gue SMP.
Gue benci masak bukan tanpa alasan, tapi karena gue bosan dimarahi dan selalu dikritik kinerja gue oleh nyokab.
Di tahun ini, kondisi ekonomi dunia, termasuk negara gue lagi ga baik-baik saja.
Ga cuman ekonomi, tapi kesehatan pun jadi gampang terganggu, karena pemanasan global yang semakin ga terkendalikan.
Memasak di runah, mau ga mau menjadi solusi, supaya gue masih tetap hidup dan produktif.
Ga mungkin gue selalu beli makanan di luar, karena harga sekarang melonjak naik, termasuk bahan baku dan biaya operasional. Hal tersebut pastinya mempengaruhi harga satu porsi makanan.
Makanan di negara gue, hampir rata-rata menggunakan bumbu dapur yang cukup berlebihan. Enak, tapi kalau dikonsumsi berlebihan, bakal nimbulin penyakit.
Jangan aneh, di masa sekarang, usia muda sudah terkena struk, diabetes, dan sebagainya. Hal ini karena memang bumbu makanannya mau ga mau harus mentereng biar bisa dinikmati dengan lahap.
Di usia gue yang nyaris 40 tahun, ga mungkin gue andelin makanan luar.
Mau ga mau, gue harus masak, ala kadarnya saja, yang penting perut kenyang
Tapi sebagai penikmat makanan, rasanya gue ga bisa masak dengan prinsip yang penting perut kenyang.
Gue belajar untuk masak dari TikTok.
Spaghetti Bolognese, menjadi menu favorit gue.
Paling gampang dan ada rasa, tanpa harus gue tambahin banyak bumbu.
Sudah lama gue masak tanpa minyak ataupun margarin.
Gue menggunakan pan, dan membiarkan lauk seperti ayam ataupun daging giling matang sendiri dalam pan.
Seperti hari ini, gue potong ayam dalam ukuran kecil-kecil, kemudian pan di teflon selama beberapa menit. Gue cukup sabar memasaknya dengan menggunakan api kecil.
Supaya ga berasa menyia-nyiakan waktu, gue sambil mencuci talenan dan pisau yang gue pakai untuk potong ayam tadi.
Kemudian gue memasukkan bawang putih yang memang sudah di chop dalam toples. Gue tipe yang ga mau repot, sehingga selalu stok bawang putih yang sudah dichop.
Setelah sudah wangi, gue memasukkan daging giling yang sudah gue pack dalam satu porsi.
Gue diamkan beberapa saat hingga daging giling mengekstrak minyaknya sendiri diatas teflon yang panas. Sangat wangi, indera penciumanku mengalirkan signal enak ke otak, yang kemudian mengirimkan signal lapar ke perutku.
Segera saja gue memasukkan bumbu bolognese instan dua sendok.
Gue tambahkan sambal bawang yang memang gue stock, dan dua lembar keju.
Masak dengan api yang kecil, hingga si keju mencair dan bumbu bolognese mengeluarkan buih, menandakan dirinya sudah cukup hangat untuk dimasukkan bumbu lainnya.
Spaghetti Fettucini 31 pun yang sudah gue rebus, langsung gue masukkan, aduk bersama bumbu yang lain.
Ah, gue menikmati banget proses memasak ini seakan ini menjadi karya yang gue lahirkan.
Dari memotong bahan bakunya, hingga memasukkan berbagai bumbu dapur dalam satu wadah teflon, yang akhirnya harus disajikan dalam piring.
Duduk di meja makan, gue pun ga sabar untuk menyantapnya.
Dan benar saja, rasa spaghetti bolognese yang gue masak, sangat memanjakan lidah, karena minyak ekstrak daging gilingnya serta bawang putihnya membuat spaghetti bolognese semakin sempurna.
Baru memahami bagaimana seseorang senang sekali dengan masak.
Gue ga tahu totalnya berapa yang gue habiskan dalam sekali masak, berikut dengan biaya gas.
Tapi rasanya bisa jadi ga semahal makanan yang gue beli di luar.
Leave a comment