Setiap manusia memiliki beraneka ragam karakter.

Ga semua orang bisa saling cocok, tapi untuk manusia yang satu ini, kita mungkin bisa kompak ga suka dengan karakternya.

Bahkan kata istighfar bisa sering terucap dari mulut untuk menahan kesabaran.

Karena itu terjadi di lingkunganku, 20 orang yang dia temui, semuanya serempak tidak menyukai karakternya yang semaunya sendiri, dengan sikap yang merendahkan orang lain.

Seorang perempuan berkulit putih, layaknya bangsa Arya. Hidungnya mancung, dengan rambut coklat yang semakin shiny ketika terkena sinar matahari.

Wajahnya cantik, dan tubuhnya langsing. Namun semakin tahun, cara berdiri perempuan tersebut semakin membungkuk.

Keningnya selalu berkerut tanda tidak puas dengan hidup, seakan membagikan vibes negatif pada setiap yang melihat.

Ups, anggap aku terlalu subjektif, tapi aku sangat tidak menyukainya.

Perempuan tersebut berkewarganegaraan India, lancar bahasa Indonesia dan berbisnis di Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum, betapa rasismenya di India, bahwa kulit putih jauh lebih dihargai dan dianggap memiliki kasta yang tinggi ketimbang warga dengan warna kulit yang berbeda.

Sedangkan di Indonesia, perbedaan etnis dan kelas sudah hampir punah. Kita bersikap sopan satu sama lain ketika bertemu secara offline.

Perempuan ini yang memiliki usaha berinisial L, sepertinya membawa adat budaya dari negaranya ke Indonesia, seperti menunjuk barang dengan kakinya.

Dan bisa meminta karyawan yang dimana itu adalah staff orang lain, membawa barang pesanannya, dan menunggu kedatangannya di pinggir jalan dalam waktu yang berjam-jam.

Kenapa dipinggir jalan? Karena dia tidak mau membayar tiket masuk parkiran.

Hal yang mengesalkan berikutnya, ketika ia menginginkan barang, yang dimana dia tidak memiliki samplenya.

Karena di tokoku sudah ga tersedia barang tersebut, maka hanya ada sample arsip saja, yang ga boleh dibawa oleh siapapun.

Ia ingin mencarinya di toko lain dengan membawa sample arsip tersebut.

Sesuai dengan aturan toko kami, maka kami ga mengizinkan dirinya membawa sample arsip tersebut, solusinya kami mengizinkan dia untuk foto.

Bukannya menghargai solusi kami, ia langsung merampas sample toko kami dengan paksa. Hohoho… benar-benar kelakuannya bikin tegang urat.

Ga hanya itu, toko kami sempat memberikan kelonggaran pembayaran tempo untuknya dalam jangka waktu dua bulan.

Namun ketika kami menagihnya sesuai dengan jatuh tempo, ia terus mangkir hingga satu tahun, dengan alasan sedang ke India, China, dan seterusnya.

Ketika aku menagihnya dengan keras, dia membayar, namun langsung membulatkan nominal harga ke bawah. Misal harganya Rp 7.500.000, maka ia bulatkan menjadi Rp 7.000.000.

Belum selesai sampai sana, ketika ia mau membeli barang, setiap barang selalu ia periksa kualitasnya satu per satu dan harus dilihat ke luar toko dan terkena cahaya matahari.

Dari 20 barang yang ia lihat, biasanya ia hanya membeli 2-3 barang saja.

Dalam waktu sebulan, ia bisa retur, dengan alasan barang tersebut kurang bagus, dalih yang sebenarnya ia tidak bisa memasarkan barang tersebut.

Dan belum berakhir sampai disana, ia bisa memakai telepon kami, tanpa permisi, parkir seenak jidatnya tanpa permisi, menitipkan barang orang lain pada kami tanpa permisi dan membeli di toko kami.

Bahkan bisa menjadi provokator demi mendapatkan harga yang ekonomis.

Misal kemarin si A bilang harganya sekian, kok kamu sekian sih. Dan ternyata obrolan itu ga pernah ada, dan untung rekan kerjaku, A, selalu memiliki bukti obrolan.

Perempuan ini adalah paket lengkap yang tidak disukai seluruh pedagang di Indonesia. Seenak-jidatnya.

Mau tidak mau, aku pun akhirnya bersikap judes, dan memberikan aturan yang begitu ketat ketika berdagang dengannya. Dengan harapan, dirinya membeli di tempat lain saja, tanpa aku harus mengusirnya.

Menariknya, bertahun-tahun aku terapkan hal seperti itu, perempuan ini selalu saja datang dan membeli barang tanpa mengubah sikap.

Yaa, mendingan dari sikapnya yang awal, namun tetap membawa sikap yang menyebalkannya.

Melepas identitasku sebagai pedagang, sifatnya membuatku tertarik. Aku merasa perempuan ini mengalami stres berat, ia sama sekali ga paham kalau sikap dan karakternya tersebut sama sekali ga menyenangkan.

Ribut sepertinya sudah menjadi prinsip hidupnya, karena dimanapun dia berada, ia akan ribut dengan penjual dan kliennya sendiri, dan itu aku dengar sendiri ketika ia ngobrol via telepon.

Satu sisi kasihan, dan ingin mengobrol dengannya.
Tapi aku tahu ketika ga ada batas profesional, perempuan ini akan bersikap semena-mena.

Yah, biarlah itu menjadi urusan dirinya. Tapi semoga dirinya semakin membaik, apalagi kasihan usianya pasti ga muda lagi, padahal penampilannya masih begitu menarik.

Leave a comment