Setiap manusia tentunya memiliki ruang aman sendiri, yang kita istilahkan sebagai “pulang”.

Telisik lebih dalam, ternyata pulang ga bisa kita artikan hanya sebagai rumah semata, tapi tempat kita merasa nyaman menjadi diri sendiri, tanpa harus memakai topeng kehidupan supaya kita di terima dengan baik.

Ruang aman ini ga punya pakem atau standar pastinya.

Harus punya kekayaan sekian, harus agama apa, ataupun harus mendapatkan jabatan apa.

Ketika kita memiliki atau mencapai itu semua sesuai dengan standar orang lain, apakah kita bisa merasakan kebahagiaan itu?

Ilustrasinya seperti ini :

Rizal berkecimpung di dunia usaha sejak masa remaja, hingga akhirnya ia bisa memiliki sebuah toko dan usahanya cukup dikenal hingga ke mancanegara.

Dikalangannya, Rizal sudah mencapai kesuksesan. Begitu pula dengan Rizal, ia begitu bangga pada pencapaiannya, hingga dirinya tersentuh untuk membantu saudara-saudarinya agar bisa memiliki perekonomian yang mandiri.

Anak-anaknya tentu digembleng agar bisa mewarisi usahanya, sekaligus memiliki mental layaknya entrepreneur sejati.

Karena Rizal biasa berdagang, maka ia membukakan anak-anaknya usaha dagang juga, yang ternyata ga semua anaknya memiliki insting bisnis seperti dirinya.

Dalam perjalanan hidupnya, istri Rizal meninggal, maka ketika anak-anaknya sudah dewasa, Rizal memutuskan untuk memiliki istri kembali.

Tina, namanya, seorang gadis muda, yang usianya cuman berbeda 5 tahun lebih tua dari anak sulung Rizal.

Dengan Tina, Rizal sama sekali ga memiliki keturunan sama sekali.
Ketika menjadi istri, Tina kerap membantu usaha Rizal, dan memiliki job desk sebagai sales di offline storenya.

Di usia senjanya, Rizal selalu meluangkan waktu untuk selalu ke toko, walaupun kesehatannya semakin menurun.

Toko dan usaha tersebut, akhirnya diwariskan pada anak-anaknya. Dan dikelola oleh anak sulungnya, Rina.

Semua berjalan lancar, hingga tercium aroma curang bahwa Tina ingin menguasai toko tersebut. Anak-anaknya menjadi sangat waspada.

Toko tersebut menjadi simbol kesuksesan bagi keluarga Rizal.

Bukan berarti Tina serakah, namun ia merasakan sosok Rizal saat ia berada di toko.

Tahu dirinya ga pernah benar-benar di terima dengan baik oleh 3 dari 5 anak Rizal, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap bisa bekerja di toko tersebut.

Kecurigaan anak-anak Rizal, bukan tanpa sebab.
Sebelum meninggal, Rizal mengatakan rumah yang ia tinggali bersama Tina akan diwariskan pada anak bungsunya.

Rumah memang atas nama Tina, tapi rumah tersebut milik anak bungsunya, yang namanya Tony.

Rizal meninggal, surat pernyataan tentang kepemilikan rumah yang sebenarnya ikut raib. Tina menyatakan bahwa rumah tersebut memang miliknya, dan secara sertifikat rumah itu memang atas namanya.

Seluruh anak Rizal pada dasarnya tidak terima, namun Rina, sebagai anak sulung, masih merasa kasihan pada Tina.
Masih mau memahami penyebab dibalik pola perilaku Tina yang serakah.

Seorang individu yang kesepian, dan berusaha mencari perlindungan setelah ga memiliki suami.

Oleh sebab itu, anak-anak Rizal masih mengizinkan Tina bekerja di toko Rizal, juga memiliki rumah tersebut.
Hati mengkel banget, tapi ya sudahlah, menurut anak-anaknya rezeki bisa di cari lagi.

Dan benar saja, tidak lama kemudian, ada rezeki melalui penjualan tanah, sehingga anak bungsu Rizal dibelikan rumah oleh anak-anak Rizal lainnya, tanpa sepengetahuan Tina.

Ga mau toko diambil alih oleh Tina, maka cucu Rizal pun diminta untuk nimbrung di toko tersebut.

Tina mau ga mau menerima kehadiran cucu Rizal, yang menurutnya bodoh dan bisa diatur.

Ga menyangka cucu Rizal ini memiliki semangat untuk memberikan sentuhan terobosan yang lebih modern pada usaha Rizal, seperti digitalisasi inventory, penjualan, dan membuat sosial media.

Merasa keluar dari pakem strategi usaha Rizal yang selama ini memang sudah sukses, membuat Tina paranoid.

Tina merasa dirinya gaptek, dan sudah terlalu tua untuk belajar hal baru. Ia tidak ingin ada perubahan, supaya ia masih bisa tetap berada di toko tersebut.

Cara kerja cucu Rizal pun sering mengalami konflik dengan Tina, perseteruan cara modern dan tradisional pun semakin memanas setiap tahunnya.

Cucu Rizal pun menghadap pada anak-anak Rizal untuk mendapatkan dukungan, atau bisa jadi diberikan kepastian cara mana yang perlu dipakai supaya bisa sesuai juga dengan keinginan anak-anak Rizal.

Namun, cucu Rizal hanya disuruh sabar menghadapi Tina yang usianya sudah senja.

Untuk cucu Rizal kata “sabar” bukan solusi dalam berbisnis. Namun karena ia merasa bukan pemilik, maka ia pun mengajukan resign.

Keputusan resign bukan tanpa sebab, akan tetapi cucu Rizal memiliki impian sendiri untuk menjadi penulis dan mendalami sejarah.

Kalau ruang untuk memberikan nafas baru bagi bisnis kakeknya menjadi suatu momok bagi Tina, dan anak-anak Rizal sendiri mendukung keberadaan Tina, maka cucu Rizal ga melihat ia harus berada di sana terus.

Cukup Tina dan para karyawan kepercayaan anak-anak Rizal saja yang berada di sana.

Sepuluh tahun berlalu, pengajuan resign sang cucu belum disetujui oleh pihak keluarga.
Kata “Sabar” dan “ga tega” menjadi slogan dalam bisnis Rizal, yang selama ini terkenal tangguh dan tegas terhadap keputusan.

Anak-anak Rizal menganggap sang cucu seharusnya juga memiliki ruang aman yang sama.

Pada akhirnya, ruang aman yang diciptakan oleh Rizal dan keluarganya saling menjepit dan membuat stres satu sama lain.

Tina hidup dalam ketakutan, berusaha terus mempertahankan kursinya di toko tersebut, dan lebih rela konflik dengan sang cucu.

Anak-anak Rizal juga mengalami dilema antara rasa ga enak, dan legitimasi warisan.

Cucu pun mengalami tekanan karena tidak bisa berdaulat atas dirinya.

Dari sini kita bisa lihat bahwa pulang yang sesungguhnya ga bisa distandarisasi, setiap manusia memiliki makna pulang yang berbeda, tergantung ruang aman yang mereka inginkan.

Leave a comment