Buku ini lagi hype, setidaknya sering bergulir di sosial media saya.
Hook dari buku ini yang bikin langsung saya berminat membacanya, pas salah satu content creator menyebutkan “kenapa air di Indonesia ga bisa diminum?”.
Kemudian dia menjelaskannya dengan runut sambil mengemukakan salah satu fakta bahwa PH air di Indonesia lebih kecil ketimbang Timor Timur, negara yang kini sudah menjadi tetangga.
Ini seakan menjawab pertanyaan saya, “kenapa ya air keran di Jepang, bisa langsung diminum, sedangkan di Indonesia, air kerannya bau besi, padahal negeri kita bisa dibilang memiliki sumber daya air yang melimpah?”.
Walau tidak semua air keran di Jepang, mampu saya minum, karena pasca terkena COVID, pencernaan saya cukup sensitif dengan mineral yang terkandung dalam air.
Dilema air keran dan luka struktural
Membaca buku ini, saya diberikan banyak fakta di lapangan mengapa negeri kita tidak dan tidak akan mampu menghasilkan air keran yang layak minum, bahkan mandi, apalagi masak.
Efek domino akibat kebijakan-kebijakan pemerintah dari masa ke masa yang kurang tepat untuk diaplikasikan pada seluruh daerah di Indonesia, membuat sumber daya alam kita cukup acak adut.
Yang kena imbas sebenarnya bukan hanya warga setempat, tapi nantinya akan berpengaruh juga pada kita, rakyat seluruh Indonesia.
Dalam buku ini tidak hanya air, tapi juga membahas tentang isu geopolitik dan pengolahan sumber daya alam standar internasional yang bisa dibilang kurang pas buat negeri kita.
Tidak hanya negeri kita sebenarnya, malah seluruh dunia.
Pengolahan sumber daya alam yang malah mengeksploitasi, hanya bikin negara terlihat “keren”, namun menciptakan jurang sosial yang begitu besar antara kaya dan miskin.
Miskin belum tentu malas, tapi miskin terjadi karena struktural yang efeknya saling mempengaruhi.
Ketahanan pangan yang sesuai dengan alam dan masyarakat kita, serta bagaimana masyarakat setempat mengolah sumber daya alamnya sendiri, juga diceritakan dalam buku ini.
Simbosis Mutualisme : Kembali ke Koperasi Bung Hatta
Dalam buku ini juga dibahas tentang mengapa Mohammad Hatta, wakil Presiden RI pertama, sangat menganjurkan masyarakat kita untuk menganut dasar ekonomi koperasi.
Koperasi di sini tidak hanya membahas tentang ekonomi semata, tapi bagaimana sistem ini bisa menjadi simbiosis mutualisme, yang dampaknya nanti sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila.
Tentunya sistem koperasi diperlukan integritas yang tinggi dari para pengurusnya.
Ada beberapa daerah yang sistem koperasinya berhasil, omset milyaran hingga triliunan.
Tapi bukan itu titik poinnya, melainkan bagaimana masyarakat setempat bisa hidup dengan layak melalui sistem koperasi.
13 Tahun Perjalanan Jurnalis Lintas Generasi
Dengan membaca buku ini, teman-teman akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang kondisi Indonesia yang sebenarnya, tanpa ada kepentingan politik.
Apalagi buku Reset Indonesia ini ditulis oleh 4 jurnalis lintas generasi dan merupakan rangkuman dari ekspedisi perjalanan selama 13 tahun.
Bagi saya, buku ini bukan hanya sekedar data ataupun cerita, melainkan panduan bagaimana seharusnya kita hidup dalam bernegara, yang Tuhan percayai untuk mengolah sumber daya alamnya yang begitu melimpah.
Bila berminat lebih lanjut, teman-teman bisa klik link dibawah ini untuk membaca lebih lengkap.

Leave a comment