Ketika Buah Simalakama menghampiriku

“Aku selalu mencintaimu dan ga akan pernah berubah”.

Kalimat tersebut mungkin akan membuatku luluh bila diucapkan saat aku berusia remaja.

Namun kini diusiaku nyaris kepala 4, malah pertanyaan yang muncul, “sampai kapan rasa itu bertahan?”.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis ketika mendengar ucapannya yang diiringi dengan senyuman manis.

Seharusnya hubungan aku dan Pram tidak terjadi. Ia memiliki istri dan anak, begitu pula aku, aku sudah memiliki suami.

Kami sudah mencoba untuk menahan diri, namun yang terjadi kami malah semakin dekat.

Ah, hidup….!! Apakah boleh aku menyalahi nasib? atau mesti aku menyalahkan diriku sendiri karena ga mampu menahan diri?

***

Pernikahanku sudah memasuki usia ke 10 tahun. Seperti pada pasangan umumnya, ikatan pernikahan menjadi formalitas belaka.

Aku bertahan demi orang tuaku. Suami bertahan karena ia tidak ingin dipaksa menikah.

Tapi kami sudah sepakat tidak ada lagi rasa cinta diantara kami.

***

“Dia udah ga peduli sama aku”.

Menjadi alasannya mengapa Pram akhirnya bisa bersamaku.

Tadinya aku ingin mencintainya secara diam-diam, tidak menyangka rasa cinta ini terwujud dalam bentuk perhatian, yang akhirnya membuat Pram malah jatuh cinta padaku.

“Sementara ini, aku belum bisa meninggalkannya karena anakku masih kecil. Tapi nanti, aku pasti akan menghalalkanmu, sayang.”

Jawaban yang selalu Pram berikan kalau aku bertanya, mengapa masih bertahan kalau ga ada lagi rasa cinta dengan istrinya.

***

“Jul, kalau aku jatuh cinta sama orang lain. Kamu mau lepasin aku?”

Disatu momen saat aku sedang duduk di teras bersama suamiku, Julius.

“Engga. Tapi silakan kamu pacaran, kalau memang ada orang lain, yang penting jangan bawa ke rumah ini. Dan hati-hati pacarannya.”

Julius menjawab dengan menghirup kopi hitam panas yang kusajikan dalam cangkir putih kesukaannya.

“Jadi pernikahan ini untuk apa?”, tanyaku tanpa emosi, namun tetap membuatku menghembuskan napas putus asa tanpa sadar.

Hanya satu tahun pertama, bisa dibilang kami memang hidup layaknya suami istri. Setelahnya, pernikahan kami hanya formalitas belaka.

Julius menghampiriku, tubuhnya sedikit membungkuk dan meletakkan tangan kirinya di pinggir sofa, tempatku duduk. Tangan kanannya menahan daguku supaya aku bisa memperhatikan ucapannya dengan baik.

“Kita bisa saling memanfaatkan pernikahan ini, sayang. Kamu bisa menjamin hari tua orangtuamu, karena kamu bisa menikahi orang sukses. Dan aku ga ada yang usik harus menikah dengan perempuan.”

Kemudian, Julius membelai pipiku, sambil menambahkan, “Dan you know, apapun yang terjadi aku sayang sama kamu.”

Aku hanya terdiam.

Ketika Julius beranjak dari ruangan, aku hanya bisa melihat pemandangan gedung dengan hampa. Benarkah pernikahan kita saling menguntungkan?

Sebagai suami, Julius sangat memberikan jaminan atas kenyamanan hidupku. Aku bisa berfoya-foya tanpa kerja. Aku bisa memastikan orang tuaku hidup dengan nyaman, tanpa perlu memikirkan hari tua.

Namun aku lebih memilih untuk bekerja sekedarnya dan memiliki aktivitas, dibandingkan menjadi istri sosialita.

Masuk ke lingkup perempuan sosialita, pastinya akan banyak pertanyaan. Menghabiskan energi, dan akhirnya malah jadi bahan pergunjingan.

Julius, bisa dibilang suami terbaik.

Bersamanya, aku bisa menceritakan apapun tanpa takut di judge. Hanya saja kami tidak bisa saling mencintai.

***

“Pram, hubungan kita ga akan pernah ada ujungnya.”

Aku merasa kasihan pada hubungan Pram kalau kita masih berlanjut. Aku dan Julius tidak bisa saling melepaskan.

Pram sendiri tidak bisa memberikan jaminan kondisi finansialnya mampu menampung orang tuaku.

Aku tidak mau orang tuaku susah lagi. Sudah waktunya mereka menikmati hidup layaknya manusia.

“Ada apa sebenarnya, sayang? Apa kamu mencintai Julius?”

Aku tidak tahan melihat sorot matanya yang begitu pedih, walau aku bertanya-tanya benarkah dirinya ga mau kehilangan aku?

“Ga mungkin aku lepasin Julius, Pram. Dia yang pertama kalinya melepaskanku dari jerat kemiskinan.”

Disaat Julius mengambilku sebagai istri, aku hanya seorang pembantu rumah tangga, dengan tingkat pendidikan SMP. Itu pun hanya di gaji sekedarnya, aku dan orang tua hanya bisa makan sekedarnya saja.

“Sayang, kamu bisa pakai cara lain untuk berterima kasih, ga perlu harus menjadi istrinya…”

Hoho… Pram sungguh naif, ingin kulontarkan tanya, “bisakah kamu menjamin kehidupan aku dan orang tuaku di kemudian hari?”.

Tapi itu pasti melukai harga dirinya. Tidak, aku tidak mau menyakitinya.

Salahku, seharusnya dari awal aku menuruti Julius untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi.

Seharusnya aku memiliki usaha ataupun pekerjaan yang bisa menjamin kehidupanku dan kedua orang tuaku bila aku lepas dari Julius.

Sehingga hari ini, ketika harus memilih, aku bisa memilih orang yang kucintai tanpa banyak pertimbangan.

Namun, aku hanya bisa terdiam, menatap mata Pram yang sorotnya semakin menyedihkan.

“Asal aku bisa didekatmu, Hana. Kita begini saja, aku sudah cukup.”

Ucapan Pram benar-benar membuatku terdiam, menembus batin hingga aku mempertanyakan, “pantaskah aku mendapatkan cintanya?”

***

“Hana, kamu boleh melakukan apapun, asal kamu jangan ninggalin aku, sayang”, ucap Julius yang sedang terduduk lemas dan kuyu di sofa rumah kami.

“Aku minta maaf…”

“Kamu ga salah, wajar kalau kamu jatuh cinta. Aku sendiri ga bisa kamu rasa cinta itu. Tapi aku ga mau cerai, sama kamu, aku bisa menjadi diriku sendiri, apa adanya, tanpa harus menjaga citra apapun.”

“Apa kamu ga mau bareng sama Rendi?”, saat ini sepertinya sudah banyak yang mulai terbuka dengan hubungan sesama jenis.

Bahkan kalau Julius mau menikahi Rendi, dia bisa menikah di negara luar. Kekayaannya sangat menyanggupi dirinya untuk pindah kewarganegaraan dengan hidup yang nyaman.

“Mau… sangat mau… tapi aku juga gamau kehilangan kamu. Aku sudah terbiasa dengan kamu.”

Julius mulai merengkuh tubuhku.

“Kita bisa jadi sahabat”, ucapku menghiburnya, sambil balas memeluknya. Aku bingung bagaimana harus bersikap.

“Tapi tidak bisa seintens seperti sekarang. Saat aku butuh pelukan, saat aku butuh teman untuk berbagi. Pram ga akan pernah mengizinkannya. Rendi sendiri ga bisa memberikan kenyamanan seperti yang kamu kasih ke aku, Hann.”

Orang tua Julius sangat keras, terutama ibunya. Ia hampir tidak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang dari ibunya.

Kalau karena tidak berhadapan sendiri dengan ibu Julius, aku tidak akan percaya ada seorang ibu yang begitu keras dan dingin terhadap anaknya.

Aku hanya bisa memeluknya, menenangkannya, sambil menenangkan batinku, “Tuhan, aku harus bagaimana?”.

Aku sangat berutang budi pada Julius, tapi aku sangat mencintai Pram.

***

“Sah bercerai….”, ucapan hakim yang paling aku dengar adalah dua kata itu.

Aku menemani Pram di sidang perceraiannya. Ia ingin aku berada di sisinya ketika ketuk palu perceraiannya dikumandangkan.

Pram segera menghampiriku dengan senyum yang lelah, dan mata yang sembap. Ia habis menangis, karena tidak mendapatkan hak asuh putrinya.

Bagi Pram, pusat dunianya adalah putri, dan katanya, aku.

“Maaf ya, Pram, aku belum bisa…” menceraikan Julius, ia masih membutuhkan aku, dan aku ga tega untuk mengecewakan orang yang sudah baik sama aku.

Kalimat tak terucap itu tidak perlu disampaikan, karena Pram langsung memahaminya.

“Ini keputusanku, ga ada hubungannya kamu harus bareng aku atau engga. Aku ga bisa hidup dalam kepura-puraan lagi. Anakku juga sudah paham situasi rumah tangga ayah bundanya. Akan lebih baik seperti ini…”

“Tapi, Pram…”

“Aku sanggup seperti ini, sayang, yang penting aku bisa bareng kamu, ya..” senyumnya begitu tulus.

“Terima kasih”, ucapku, “sekarang tidur dulu, biar aku yang nyetir…”

Saat Pram tertidur, kepalaku begitu bergemuruh, andai dunia ini hanya berisi cinta, tanpa harus ada embel uang….

Leave a comment