Bagi sebagian orang, tinggal sendirian di rasa begitu sepi.
Tapi buat gue, tinggal sendirian merupakan ekspresi diri tanpa kekangan, ataupun takut dinilai.
Lahir dan tumbuh di keluarga yang sangat memperhatikan standar sosial dalam bersikap, gue termasuk menjadi pribadi yang begitu tegang dalam berpikir, bersikap dan bertindak.
Selama tinggal dengan keluarga, gue merasa sangat terkekang. Entah kenapa, gue sering bertanya, “kenapa nyokab harus selalu ingin hadir di setiap sudut kehidupan gue?”
Pertanyaan ini bukan tanpa sebab, karena setelah nyokab mau tahu, dan gue jawab dengan jujur, ada saja komentarnya yang bikin gue down.
Gue paham nyokab menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi please lah, kasih gue ruang error untuk gue bisa bereksperimen sendiri.
Permasalahannya, gue ga pernah bisa melontarkan argumen itu, karena mindset gue sudah keburu jiper dengan komentar nyokab yang sering meledak-ledak.
Gue pikir gue bisa tinggal sendirian, kalau sudah memasuki usia kerja. Nyatanya, gue ga diizinkan, karena sepertinya nyokab khawatir gue bakal masuk dalam pergaulan bebas.
Adik gue malah yang diizinkan untuk tinggal sendirian, karena ada alasan yang sangat jelas, tempat kerjanya jauh.
Gue sendiri ga punya alasan kuat untuk pilihan tinggal sendirian.
Lagi pula, cukup mengkhawatirkan kalau nyokab tinggal sendirian saja, apalagi nyokab ada riwayat pendarahan rahim. Dan nyokab sendiri tipe yang diam ketika sakit.
Menikah menjadi jalan ninja gue untuk bisa tinggal sendirian.
Bukannya solusi, malah gue berasa masuk kandang buaya! HAHA… jirr duplikat nyokab gue adalah suami gue, dan bahkan lebih gila!
Gue dikasih ruang bebas untuk mendekorasi interior rumah, tapi ga ada kebebasan untuk menentukan keputusan. Pergaulan dengan siapa juga ditentukan olehnya.
Jam pergi dan jam pulang juga ditentukan oleh satpam pribadi gue, yakni pak suami.
Muak sekali rasanya, terutama di masa akhir hidup nyokab, yang malahan suami gue memberikan banyak deretan aturan hanya supaya gue bisa merawat nyokab gue yang sedang sakit.
Bersyukurnya, gue memilih untuk ga menggubris aturan suami gue, sehingga gue punya waktu untuk menemani dan merawat nyokab disaat-saat terakhirnya.
Ga sampai setahun nyokab meninggal, gue bercerai. Hal yang paling melegakan dalam hidup gue.
Pasca perceraian, gue pikir gue bakal merasa bebas.
Namun ternyata, banyak sederetan tanggung jawab nyokab yang mesti gue ambil alih.
Gue cukup merasa terbebani dan terkekang saat itu, tapi mau ga mau tetap harus gue jalanin, karena peran nyokab sangat penting di keluarga, dan kebetulan gue yang lebih paham untuk seluk-beluk rinciannya.
Dan disini, gue baru paham bahwa apa kebebasan yang sebenarnya gue butuhkan.
Kebebasan untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihan tanpa rasa penghakiman benar dan salah.
Di masa ini, gue tinggal dengan adik gue.
Dan dimasa itu, adik gue mengalami guncangan besar untuk mentalnya, karena ia sangat dekat dengan nyokab.
Adik gue ga bisa ditinggal sendiri. Ia butuh ada yang menemani.
Gue dan adik gue memiliki cara yang sangat berbeda dalam mengatur rumah. Adik gue tipe yang suka bersih kinclong, tapi ga memperhatikan kerapian.
Sedangkan gue sangat memperhatikan kerapian, kalau untuk bersih, yaa yang penting kelihatannya ga berdebu saja.
Tapi hati gue meronta, gue pengen tinggal sendirian. Gue pengen bisa menentukan tata letak perabotan rumah gue sendiri. Pengen banget rumah gue kelihatan rapi dan estetik.
Akhirnya gue memilih untuk gue tetap harus bertanggung jawab sebagai kakak, yang tetap menemani adik gue. Karena disaat susah, adik gue lah yang selalu disamping gue.
Ga nyangka ada satu momen, dimana adik gue sudah berani untuk mandiri, dan setuju untuk tinggal masing-masing.
Akhirnya, gue pun mendapatkan ruang bebas gue sendiri, dimana gue bisa menentukan tata letak perabotan sesuai sama preferensi gue, bentuk perabotan yang sesuai gue inginkan, dan sebagainya.
Well, pelajaran bagi gue, kita harus memahami ruang bebas apa yang kita sebenarnya butuhkan.
Berani lah berargumentasi secara baik apa yang sebenarnya kita inginkan, dan tentunya setelah kita menjalani kewajiban peran kita dalam hidup.
Leave a comment